Laboratorium Sistem Kendali Diskrit
Kendali Pemanas Solder (On/Off)
JURUSAN TEKNIK
ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI
SEMARANG
2017
1.
Tujuan
Tujuan dari percobaan ini praktikum agar :
1.
Mahasiswa dapat
memahami dan menganalisa cara kerja rangkaian.
2.
Mahasiswa dapat
membuat program Arduino dengan menggunakan interrupt timer untuk pembacaan
sensor LM35 dan untuk menentukan kondisi pemanas (solder).
3.
Mahasiswa dapat
menampilkan t (waktu), Tsp (Suhu set point), Tn (Suhu nyata) dan Sts_p (Status
pemanas) pada Serial Monitor Arduino.
4.
Mahasiswa dapat
membuat gelombang dengan menggunakan data t (waktu), Tsp (Suhu set point), Tn
(Suhu nyata) dan Sts_p (Status pemanas) yang telah ditampilkan pada Serial
Monitor Arduino.
2.
Dasar Teori
2.1
Arduino UNO
Gambar
2.1 Arduino Uno
Arduino
UNO adalah sebuah board mikrokontroler yang didasarkan pada ATmega328
(datasheet). Arduino UNO mempunyai 14 pin digital input/output (6 di antaranya
dapat digunakan sebagai output PWM), 6 input analog, sebuah osilator Kristal 16
MHz, sebuah koneksi USB, sebuah power jack, sebuah ICSP header, dan sebuat
tombol reset. Arduino UNO memuat semua yang dibutuhkan untuk menunjang
mikrokontroler, mudah menghubungkannya ke sebuah computer dengan sebuah kabel
USB atau mensuplainya dengan sebuah adaptor AC ke DC atau menggunakan baterai
untuk memulainya.
Arduino
Uno berbeda dari semua board Arduino sebelumnya, Arduino UNO tidak menggunakan
chip driver FTDI USB-to-serial. Sebaliknya, fitur-fitur Atmega16U2 (Atmega8U2
sampai ke versi R2) diprogram sebagai sebuah pengubah USB ke serial. Revisi 2
dari board Arduino Uno mempunyai sebuah resistor yang menarik garis 8U2 HWB ke
ground, yang membuatnya lebih mudah untuk diletakkan ke dalam DFU mode. Revisi
3 dari board Arduino UNO memiliki fitur-fitur baru sebagai berikut:
·
Pinout
1.0: ditambah pin SDA dan SCL yang dekat dengan pin AREF dan dua pin baru
lainnya yang diletakkan dekat dengan pin RESET, IOREF yang memungkinkan
shield-shield untuk menyesuaikan tegangan yang disediakan dari board. Untuk ke
depannya, shield akan dijadikan kompatibel/cocok dengan board yang menggunakan
AVR yang beroperasi dengan tegangan 5V dan dengan Arduino Due yang beroperasi
dengan tegangan 3.3V. Yang ke-dua ini merupakan sebuah pin yang tak terhubung,
yang disediakan untuk tujuan kedepannya.
·
Sirkit
RESET yang lebih kuat.
·
Atmega
16U2 menggantikan 8U2.
Berikut
adalah spesifikasi dari Arduino Uno;
|
Mikrokontroler
|
ATmega328
|
|
Tegangan
pengoperasian
|
5V
|
|
Tegangan
input yang disarankan
|
7-12V
|
|
Batas
tegangan input
|
6-20V
|
|
Jumlah
pin I/O digital
|
14
(6 di antaranya menyediakan keluaran PWM)
|
|
Jumlah
pin input analog
|
6
|
|
Arus
DC tiap pin I/O
|
40
mA
|
|
Arus
DC untuk pin 3.3V
|
50
mA
|
|
Memori
Flash
|
32
KB (ATmega328), sekitar 0.5 KB digunakan oleh bootloader
|
|
SRAM
|
2
KB (ATmega328)
|
|
EEPROM
|
1
KB (ATmega328)
|
|
Clock
Speed
|
16
Hz
|
2.2
Sensor LM35
Sensor suhu LM 35 adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi
untuk mengubah besaran suhu menjadi besaran listrik dalam bentuk tegangan. LM
35 memiliki keakuratan tinggi dan kemudahan perancangan jika dibandingkan
dengan sensor suhu yang lain, LM 35 juga mempunyai keluaran impedansi yang
rendah dan linieritas yang tinggi sehingga dapat dengan mudah dihubungkan
dengan rangkaian kendali khusus serta tidak memerlukan penyetelan lanjutan.
Tegangan keluaran atau Vout memiliki jangkauan kerja dari 0 Volt
sampai dengan 1,5 Volt dengan tegangan operasi sensor LM 35 yang dapat
digunakan antar 4 Volt sampai 30 Volt. Keluaran sensor ini akan naik sebesar 10
mV setiap derajad celcius sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :
VLM35
= Suhu* 10 mV
Secara prinsip sensor akan melakukan penginderaan pada saat
perubahan suhu setiap suhu 1 ºC akan menunjukan tegangan sebesar 10 mV. Pada
penempatannya LM35 dapat ditempelkan dengan perekat atau dapat pula disemen
pada permukaan akan tetapi suhunya akan sedikit berkurang sekitar 0,01 ºC
karena terserap pada suhu permukaan tersebut. Dengan cara seperti ini
diharapkan selisih antara suhu udara dan suhu permukaan dapat dideteksi oleh
sensor LM35 sama dengan suhu disekitarnya, jika suhu udara disekitarnya jauh
lebih tinggi atau jauh lebih rendah dari suhu permukaan, maka LM35 berada pada
suhu permukaan dan suhu udara disekitarnya.
Dan
berikut adalah karakteristik sensor suhu LM35;
·
Memiliki
sensitivitas suhu, dengan faktor skala linier antara tegangan dan suhu 10
mVolt/ºC, sehingga dapat dikalibrasi langsung dalam celcius.
·
Memiliki
ketepatan atau akurasi kalibrasi yaitu 0,5ºC pada suhu 25 ºC seperti terlihat
pada gambar 2.2.
·
Memiliki
jangkauan maksimal operasi suhu antara -55 ºC sampai +150 ºC.
·
Bekerja
pada tegangan 4 sampai 30 volt.
·
Memiliki
arus rendah yaitu kurang dari 60 µA.
·
Memiliki
pemanasan sendiri yang rendah (low-heating) yaitu kurang dari 0,1 ºC pada udara
diam.
·
Memiliki
impedansi keluaran yang rendah yaitu 0,1 W untuk beban 1 mA.
·
Memiliki
ketidaklinieran hanya sekitar ± ¼ ºC.
2.3
Penguat Tak
Membalik (Non-Inverting Amplifier)
Penguat Tak Membalik (Non-Inverting Amplifier) merupakan
penguat sinyal dengan karakteristik dasar sinyal keluaran yang dikuatkan
memiliki fasa yang sama dengan sinyal masukan.
Gambar
2.2 Gambar Rangkaian Penguat Tak
Membalik (Non-Inverting Amplifier)
Dari contoh rangkaian dasar
diatas dapat diketahui ketika ada sinyal masukan yang diberikan pada terminal
masukan non-inverting, maka besar nilai penguatan tegangan rangkaian
penguat tak membalik diatas tergantung pada harga Rin dan Rf yang dipasang. Besarnya penguatan tegangan
keluaran dari rangkaian penguat tak membalik diatas dapat dituliskan dalam
persamaan matematis sebagai berikut:
Persamaan
Penguatan Tak Membalik (Non-Inverting Amplifier)
2.4
Transistor
sebagai Sakelar
Pada rangkaian elektronika, transistor sering difungsikan sebagai
penguat, sakelar (switching), dan sebagai stabilisasi tegangan (voltage).
Ketika transisitor difungsikan sebagai sakelar, transistor tersebut
dioperasikan pada situasi saturasi atau situasi titik sumbat (cut off),
bukan dioperasikan di sepanjang garis beban. Apabila transistor berada dalam
situasi saturasi, maka transistor tersebut seperti sakelar dalam situasi tertutup, sehingga arus
akan mengalir dari kolektor ke emiter. Apabila transistor berada dalam situasi
terhalang (cut off), maka transistor tersebut seperti sakelar terbuka,
sehingga arus tidak akan mengalir dari kolektor ke emiter. Tetapi perlu
diketahui bahwa arus basis merupakan arus yang mengontrol transistor, tanpa
adanya arus basis atau arus basis sama dengan nol. Untuk lebih jelasnya
perhatikan gambar rangkaian sederhana berikut.
Gambar
2.3 Rangkaian
sederhana transistor sebagai sakelar
2.5
Solid
State Relay (SSR)
Pengertian dan
fungsi solid state relay sebenarnya sama saja dengan relay elektromekanik yaitu
sebagai saklar elektronik yang biasa digunakan atau diaplikasikan di
industri-industri sebagai device pengendali. Namun relay elektro mekanik
memiliki banyak keterbatasan bila dibandingkan dengan solid state relay, salah
satunya seperti siklus hidup kontak yang terbatas, mengambil banyak ruang, dan
besarnya daya kontaktor relay. Karena keterbatasan ini, banyak produsen relay
menawarkan perangkat solid state relay dengan semikonduktor modern yang menggunakan
SCR, TRIAC, atau output transistor sebagai pengganti saklar kontak mekanik.
Output device (SCR, TRIAC, atau transistor) adalah optikal yang digabungkan
sumber cahaya LED yang berada dalam relay. Relay akan dihidupkan dengan energi
LED ini, biasanya dengan tegangan power DC yang rendah. Isolasi optik antara
input dan output inilah yang menjadi kelebihan yang ditawarkan oleh solid state
relay bila dibanding relay elektromekanik.

Gambar 2.4 Rangkaian
dalam komponen SSR
Solid
state relay itu juga
berarti relay yang tidak mempunyai bagian yang bergerak sehingga tidak terjadi
aus. Solid state relay juga mampu menghidupkan dan mematikan dengan
waktu yang jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan relay elektromekanik. Juga
tidak ada pemicu percikan api antar kontak sehingga tidak ada masalah korosi
kontak.
3.
Alat dan Bahan
1.
Multitester : 1 buah
2.
Oscilloscope : 1 buah
3.
Probe : 10 buah
4.
Project Board : 1 buah
5.
Arduino Uno :
1 buah
6.
Modul penguat
tak membalik 5x : 2 buah
7.
Sensor LM35 : 1 buah
8.
Resistor 1 k : 2 buah
9.
Transistor
BD139 : 1 buah
10.
LED :
1 buah
11.
SSR : 1 buah
12.
Solder : 1 buah
13.
Power Supply : 1 buah
14.
Sumber Tegangan
AC : 1 buah
15.
Kabel Jumper : secukupnya
16.
Komputer : 1
buah
4.
Percobaan
4.1
Gambar Rangkaian
4.2
Cara Kerja
Rangkaian kendali pemanas ini menggunakan
set point tertentu untuk mengontrol on/off pemanas. Ketika suhu kurang dari set
point, maka pemanas akan on, dan ketika suhu lebih dari set point maka pemanas
akan off. Pemanas yang dignakan berupa solder, dan pendingin yang digunakan
adalan fan. Berikut penjelasan program Arduino:
4.3
Langkah Percobaan
1.
Menyiapkan
semua alat dan bahan.
2.
Merangkai
komponen-komponen sesuai dengan gambar rangkaian.
3.
Mengukur
tegangan keluaran pada arduino uno.
4.
Membuat program
arduino uno untuk membaca data dari sensor dan untuk menentukan kondisi solder
sesuai suhu masukan.
5.
Mengatur set
point 50 oC dan kemudian mengambil data perubahan t (waktu), Tsp
(Suhu set point), Tn (Suhu nyata) dan Sts_p (Status pemanas) melalui serial
monitor.
6.
Mengubah set
point 60 oC dan kemudian mengambil data perubahan t (waktu), Tsp
(Suhu set point), Tn (Suhu nyata) dan Sts_p (Status pemanas) melalui serial
monitor.
7.
Mengubah set
point 70 oC dan kemudian mengambil data perubahan t (waktu), Tsp
(Suhu set point), Tn (Suhu nyata) dan Sts_p (Status pemanas) melalui serial
monitor.
8.
Membuat grafik
gelombang menggunakan data yang telah didapat.
4.1
Program Arduino
5.
Hasil Percobaan
1.
Gambar
gelombang untuk set point 50 oC dan kondisi pemanas.
2.
Gambar
gelombang untuk set point 60 oC dan kondisi pemanas.
3.
Gambar
gelombang untuk set point 70 oC dan kondisi pemanas.
6.
Pembahasan
1.
Grafik pertama
set point 50.
Grafik perubahan suhu tehadap
perubahan waktu yang dihasilkan diketahui bahwa grafik peningkatan suhu yang
pertama lebih tinggi atau lebih besar dibandingkan peningkatan suhu yang lainnya. Hal itu diakibatkan oleh lama
waktu status pemanas on pada peningkatan suhu yang pertama lebih lama yaitu
sekitar 15 detik dibandingkatan peningkatan suhu yang kedua dan selanjutnya
yang hanya sekitar 3 detik. Perbedaan lama waktu status pemanas itulah yang
menyebabkan grafik peningkatan suhu solder berbeda.
Penurunan suhu yang pertama pun sama
dengan peningkatan suhu yang pertama, yaitu lebih besar atau lebih lama
dibandigkan penurunan suhu yang selanjutnya, Hal itu disebabkan oleh penurunan
suhu yang pertama menurunkan suhu yang lebih besar dibandingkan lainnya.
Peningkatan suhu mempengaruhi lama penurunan suhu solder.
Pada peningkatan dan penurunan suhu
kedua dan selanjutnya grafik stabil. Hal itu disebabkan oleh status solder
semuanya sama yaitu ketika suhu berada dibawah set point 50°C. Jadi solder
mulai on dengan start suhu yang sama (untuk grafik prningkatan penurunan suhu
kedua dan selanjutnya). Sedangkan pada peningkatan yang pertama solder on pada
start suhu yang lebih rendah jadi membutuhkan waktu solder on lebih lama dan
peningkatan suhu pun lebih lama dari yang selanjutnya.
2.
Grafik kedua
set point 60.
Grafik perubahan suhu tehadap
perubahan waktu yang dihasilkan diketahui bahwa grafik peningkatan suhu yang
pertama lebih tinggi atau lebih besar dibandingkan peningkatan suhu yang lainnya. Hal itu diakibatkan oleh lama
waktu status pemanas on pada peningkatan suhu yang pertama lebih lama yaitu
sekitar 35 detik dibandingkatan peningkatan suhu yang kedua dan selanjutnya
yang hanya sekitar 3 detik. Perbedaan lama waktu status pemanas itulah yang
menyebabkan grafik peningkatan suhu solder berbeda.
Penurunan suhu yang pertama pun sama
dengan peningkatan suhu yang pertama, yaitu lebih besar atau lebih lama
dibandigkan penurunan suhu yang selanjutnya. Hal itu disebabkan oleh penurunan
suhu yang pertama menurunkan suhu yang lebih besar dibandingkan lainnya.
Peningkatan suhu mempengaruhi lama penurunan suhu solder.
Pada peningkatan penurunan suhu
kedua dan selanjutnya grafik tetap tidak stabil. Hal itu disebabkan oleh
pendingin solder tidak diaktifkan secara terus menerus (hanya dinyalakan ketika
solder off) serta peletakan pendingin tidak sama pada setiap penyalaannya.
3.
Grafik ketiga
set point 70.
Grafik perubahan suhu tehadap
perubahan waktu yang dihasilkan diketahui bahwa grafik peningkatan suhu yang
pertama lebih tinggi atau lebih besar dibandingkan peningkatan suhu yang lainnya. Hal itu diakibatkan oleh lama
waktu status pemanas on pada peningkatan suhu yang pertama lebih lama yaitu
sekitar 30 detik dibandingkatan peningkatan suhu yang kedua dan selanjutnya
yang hanya sekitar 10 detik. Perbedaan
lama waktu status pemanas itulah yang menyebabkan grafik peningkatan suhu
solder berbeda.
Penurunan suhu yang pertama pun sama
dengan peningkatan suhu yang pertama, yaitu lebih besar atau lebih lama
dibandigkan penurunan suhu yang selanjutnya. Hal itu disebabkan oleh penurunan
suhu yang pertama menurunkan suhu yang lebih besar dibandingkan lainnya.
Peningkatan suhu mempengaruhi lama penurunan suhu solder.
Pada peningkatan penurunan suhu
kedua dan selanjutnya grafik tetap tidak stabil. Hal itu disebabkan oleh
pendingin solder tidak diaktifkan secara terus menerus (hanya dinyalakan ketika
solder off) serta peletakan pendingin tidak sama pada setiap penyalaannya.
7.
Kesimpulan
Dari pembahasan data yang
telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1.
Peningkatan dan
penurunan grafik suhu solder akan stabil apabila start suhu yang pertama dan
selanjutnya adalah sama.
2.
Peningkatan dan
penurunan grafik suhu solder akan stabil
apabila pendingin diletakkan dan diaktifkan sama dari awal solder on.
3.
Perbedaan lama
waktu status on berpengaruh pada lama peningkatan suhu ketika suhu solder telah
melampui set point serta solder off.
4.
Tidak
konstannya penyalaan pendingin sangat berpengaruh pada peningkatan dan
penurunan suhu solder.
5.
Semakin besar
set point maka status on akan lebih lama pula.
Daftar
Pustaka
Bawono, Ari. 2013. “Op-Amp (Operasional
Amplifier) Sebagai Penguat”. http://ari-bawono.blogspot.co.id/2013/09/op-amp-operasional-amplifier-sebagai.html.
Diunduh pada hari Sabtu, 11 Maret 2017 pukul 19.05 WIB.
Company, Ferbal. 2012. “Sensor Suhu LM35”.
ferballcompany.blogspot.co.id. Diunduh pada hari Sabtu, 11 Maret 2017 pukul
19.15 WIB .
Dermanto,Trikueni. 2014. “Pengertian Solid State Relay”. trikueni-desain-sistem.blogspot.co.id.
Diunduh pada hari Sabtu, 11 Maret 2017 pukul 19.17 WIB.
Dermanto, Trikueni. 2013. “Transistor Sebagai Saklar”. trikueni-desain-sistem.blogspot.co.id.
Diunduh pada hari Sabtu, 11 Maret 2017 pukul 19.15 WIB.
Ecadio. 2016. “Mengenal dan Belajar Arduino Uno”. http://ecadio.com. Diunduh pada hari Sabtu,
11 Maret 2017 pukul 19.15 WIB.
Putranto, Basuki Dwi. 2014. “Fungsi dan Karakterisitk Penguat
Operasional”. googleweblight.com. Diunduh pada hari Sabtu, 11 Maret 2017
pukul 19.13 WIB.
Sayekti,
Ilham. 2014. ”Elektronika Analog III. Semarang” : Politeknik Negeri
Semarang.