Kamis, 01 Desember 2016

Bilangan

Konversi Bilangan Desimal

Konversi bilangan desimal merupakan suatu proses mengubah bentuk bilangan desimal kedalam bentuk bilangan lainnya (bilangan biner, bilangan oktal atau bilangan hexadesimal).
Konversi Bilangan Desimal Ke Biner
Konversi bilangan desimal ke biner merupakan suatu proses mengubah bentuk bilangan desimal kedalam bentuk bilangan biner. Ada beberapa cara yang dapat agan lakukan untuk mengkonversi bilangan desimal ke biner. Berikut caranya :
  1. Cara yang pertama, yaitu dengan membagi bilangan desimal dengan nilai 2 (basis). Cara ini merupakan cara yang sering digunakan oleh banyak orang. contoh.                          konversi bilangan desimal ke biner
  2. Nilai bilangan desimal 77 = 1001101 (bilangan biner).
  3. Cara yang kedua, yaitu dengan menjumlahkan atau menambahkan bilangan-bilangan dengan pangkat dua (basis) sampai jumlahnya sama dengan bilangan desimal yang akan dikonversikan.
    cara konversi bilangan desimal ke biner
Konversi Bilangan Desimal Ke Oktal
Konversi bilangan desimal ke oktal merupakan suatu proses mengubah bentuk bilangan desimal kedalam bentuk bilangan oktal, dengan cara membagi bilangan desimal dengan nilai 8 (basis). contoh .
konversi bilangan desimal ke oktal
Nilai bilangan desimal 77 = 115 (bilangan oktal)
Konversi Bilangan Desimal Ke Hexadesimal
Konversi bilangan desimal ke hexadesimal merupakan suatu proses mengubah bentuk bilangan desimal kedalam bentuk bilangan hexadesimal, dengan cara membagi bilangan desimal dengan nilai 16 (basis). contoh .
konversi bilangan desimal ke hexadesimal
Nilai bilangan desimal 77 = 4D (bilangan hexadesimal)

Konversi Bilangan Biner

Konversi bilangan biner merupakan suatu proses mengubah bentuk bilangan biner kedalam bentuk bilangan lainnya (bilangan desimal, bilangan oktal atau bilangan hexadesimal).
Konversi Bilangan Biner Ke Desimal
mengkonversi bilangan biner ke desimal, yaitu dengan cara menggunakan bantuan tabel konversi bilangan biner ke desimal dibawah ini.

tabel konversi bilangan biner ke desimal
Contoh konversi bilangan biner 1011100 ke bilangan desimal :
konversi bilangan biner ke desimal
Jadi, nilai bilangan biner 1011100 = 92 (bilangan desimal)
Konversi Bilangan Biner Ke Oktal
Cara mengkonversi bilangan biner ke oktal dapat dilakukan dengan mengkonversi tiap-tiap tiga buah digit biner. tabel konversi bilangan biner ke oktal dan contoh.
tabel konversi bilangan biner ke oktal
Contoh konversi bilangan biner 1011100 ke bilangan oktal :
konversi bilangan biner ke oktal
Jadi, nilai bilangan biner 1011100 = 134 (bilangan oktal)
Konversi Bilangan Biner Ke Hexadesimal
Cara mengkonversi bilangan biner ke hexadesimal dapat dilakukan dengan mengkonversi tiap-tiap empat buah digit biner. tabel konversi bilangan biner ke hexadesimal dan contoh.
Contoh konversi bilangan biner 1011100 ke bilangan hexadesimal :
konversi bilangan biner ke hexadesimal
Jadi, nilai bilangan biner 1011100 = 5C (bilangan hexadesimal)

Konversi Bilangan Oktal

Konversi bilangan oktal merupakan suatu proses mengubah bentuk bilangan oktal kedalam bentuk bilangan lainnya (bilangan desimal, bilangan biner atau bilangan hexadesimal).
Konversi Bilangan Oktal Ke Desimal
konversi bilangan oktal ke desimal, yaitu dengan cara mengalikan masing-masing digit bilangan dengan position valuenya. Contoh konversi bilangan oktal 145 ke bilangan desimal :
konversi bilangan oktal ke desimal
Jadi, nilai bilangan oktal 145 = 105 (bilangan desimal)
Konversi Bilangan Oktal Ke Biner
Konversi bilangan oktal ke biner dapat dilakukan dengan mengkonversi masing-masing digit oktal ke tiga digit biner.Contoh konversi bilangan oktal 145 ke bilangan biner :
konversi bilangan oktal ke biner
Jadi, nilai bilangan oktal 145 = 001100101 (bilangan biner)
Konversi Bilangan Oktal Ke Hexadesimal
Konversi bilangan oktal ke hexadesimal yang pertama harus dilakukan adalah dengan mengkonversikan bilangan oktal terlebih dahulu ke bilangan biner, kemudian baru konversikan ke bilangan hexadesimal. Contoh konversi bilangan oktal 145 ke bilangan hexadesimal.
  1. Konversi bilangan oktal ke biner terlebih dahulu :
    konversi bilangan oktal ke biner
  2. Kemudian konversikan bilangan biner tersebut ke bilangan hexadesimal :
    konversi bilangan oktal ke hexadesimal
Jadi, nilai bilangan oktal 145 = 65 (bilangan hexadesimal)

Konversi Bilangan Hexadesimal

Konversi bilangan hexadesimal merupakan suatu proses mengubah bentuk bilangan hexadesimal kedalam bentuk bilangan lainnya (bilangan desimal, bilangan biner atau bilangan oktal).
Konversi Bilangan Hexadesimal Ke Desimal
Agan dapat melakukan konversi bilangan hexadesimal ke desimal, yaitu dengan cara mengalikan masing-masing digit bilangan dengan position valuenya. Contoh konversi bilangan hexadesimal C54 ke bilangan desimal :
konversi bilangan hexadesimal ke desimal
Jadi, nilai bilangan hexadesimal C54 = 3156 (bilangan desimal)
Konversi Bilangan Hexadesimal Ke Biner
Konversi bilangan hexadesimal ke biner dapat dilakukan dengan mengkonversi masing-masing digit hexadesimal ke empat digit biner. Contoh konversi bilangan hexadesimal C54 ke bilangan biner :
konversi bilangan hexadesimal ke biner
Jadi, nilai bilangan hexadesimal C54 = 110001010100 (bilangan biner)
Konversi Bilangan Hexadesimal Ke Oktal
Konversi bilangan hexadesimal ke oktal, yang pertama harus dilakukan adalah dengan mengkonversikan bilangan hexadesimal terlebih dahulu ke bilangan biner, kemudian baru konversikan ke bilangan oktal. Contoh konversi bilangan hexadesimal C54 ke bilangan oktal.
  1. Konversi bilangan hexadesimal ke biner terlebih dahulu :
    konversi bilangan hexadesimal ke biner
  2. Kemudian konversikan bilangan biner tersebut ke bilangan oktal :
    konversi bilangan hexadesimal ke oktal
Jadi, nilai bilangan hexadesimal C54 = 6124 (bilangan oktal)

FLIP FLOP



LAPORAN TEKNIK DIGITAL
FLIP FLOP





Disusun Oleh :
                      Nama             :   Amastuti Kismia Sasanti
                      NIM               :   3.33.16.1.02
                      Kelas              :   TK – 1B
                      Nama Dosen   :   Dr.Eng. Sidiq Syamsul Hidayat.S.T.,M.T. [EL]


D3 TEKNIK TELEKOMUNIKASI
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2016 



BAB I
PENDAHULAN


1.1 LATAR BELAKANG
    Latar belakang disusunya laporan ini adalah untuk memenuhi tugas teknik digital tentang flip flop. Rangkaian lampu Flip-Flop ini bisa dibilang rangkaian awal dimulainya sistem digital, hanya dengan mengunakan beberapa komponen sederhana seperti tansistor, resistor dan elco kita sudah dapat membuat rangkaian ini. Rangkaian Lampu Flip-Flop 2 Transistor merupakan lampu variasi yang dapat digunakan sebagai hiasan atau dikembangkan sebagai lampu variasi pada motor atau mobil. Rangkaian Lampu Flip-Flop 2 Transistor ini dapat dioperasikan dengan sumber tegangan DC dari +3 volt hingga +12 volt. Rangkaian Lampu Flip-Flop 2 Transistor ini terdiri dari 2 buah LED yang dikendalikan oleh 2 buah transistor FCS9013 yang berfungsi sebagai saklar. Nyala lampu pada Rangkaian Lampu Flip-Flop 2 Transistor ini akan bergantian antara LED 1 dan LED 2 dengan interval nyala dan padamnya lampu dikontrol oleh waktu pengisian dan pengosongan kapasitor pada rangkaian RC R 10 KOhm dan C 100 uF.

1.2 TUJUAN
      Setelah melaksanakan perangkaian Lampu Flip-Flop 2 Transistor mahasiswa diharapkan dapat :
1.      Mengetahui prinsip kerja Flip-Flop.
2.      Mengetahui jenis-jenis Flip-Flop.
3.      Mengetahui fungsi dari rangkaian Flip-Flop.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 DASAR TEORI 
      Rangkaian Logika terbagi menjadi dua kelompok yaitu rangkaian logika kombinasional dan rangkaian sekuensial.  Rangkaian logika kombinasional adalah rangkaian yang kondisi keluarannya (output) dipengaruhi oleh kondisi masukan (input). Rangkaian logika sekuensial adalah rangkaian logika yang kondisi keluarannya dipengaruhi oleh masukan dan keadaan keluaran sebelumnya atau dapat dikatakan rangkaian yang bekerja berdasarkan urutan waktu. Ciri rangkaian logika sekuensial yang utama adalah adanya jalur umpan balik (feedback) di dalam rangkaiannya.
     Rangkaian yang termasuk rangkaian logika kombinasional yaitu Dekoder, Enkoder, Multiplekser, Demultiplekser. Pada rangkaian-rangkaian itu terlihat bahwa kondisi keluaran hanya dipengaruhi oleh kondisi masukan pada saat itu.  Adapun contoh rangkaian yang termasuk rangkaian sekuensial yaitu flip-flop, counter, dan register.
     Flip-flop adalah rangkaian utama dalam logika sekuensial. Counter, register serta rangkaian sekuensial lain disusun dengan menggunakan flip-flop sebagai komponen utama. Flip-flop adalah rangkaian yang mempunyai fungsi pengingat (memory). Artinya rangkaian ini mampu melakukan proses penyimpanan data sesuai dengan kombinasi masukan yang diberikan kepadanya. Data yang tersimpan itu dapat dikeluarkan sesuai dengan kombinasi masukan yang diberikan.
     Ada beberapa macam flip-flop yang akan dibahas, yaitu flip-flop R-S, flip-flop J-K, dan flip-flop D. Sebagai tambahan akan dibahas pula masalah pemicuan yang akan mengaktifkan kerja flip-flop. Hubungan input-output ideal yang dapat terjadi pada flip-flop adalah:
*Set, yaitu jika suatu kondisi masukan mengakibatkan keluaran (Q) bernilai logika positif (1) saat dipicu, apapun kondisi sebelumnya.
*Reset, yaitu jika suatu kondisi masukan mengakibatkan keluaran (Q) bernilai logika negatif (0) saat dipicu, apapun kondisi sebelumnya.
*Tetap, yaitu jika suatu kondisi masukan mengakibatkan keluaran (Q) tidak berubah dari kondisi sebelumnya saat dipicu.
*Toggle, yaitu jika suatu kondisi masukan mengakibatkan logika keluaran (Q) berkebalikan dari kondisi sebelumnya saat dipicu.
Secara ideal berdasar perancangan kondisi keluaran Q’ selalu berkebalikan dari kondisi keluaran Q.

2.1.1 Pemicuan Flip-Flop
Pada flip-flop untuk menyerempakkan masukan yang diberikan pada kedua masukannya maka diperlukan sebuah clock untuk memungkinkan hal itu terjadi.  Clock yang dimaksud di sini adalah sinyal pulsa yang beberapa kondisinya dapat digunakan untuk memicu flip-flop untuk bekerja. Ada beberapa kondisi clock yang biasa digunakan untuk menyerempakkan kerja flip-flop yaitu :
1. Tepi naik  : yaitu saat perubahan sinyal clock dari logika rendah (0) ke logika tinggi.
2. Tepi turun : yaitu saat perubahan sinyal clock dari logika tinggi (1) ke logika rendah (0).
3. Logika tinggi  : yaitu saat sinyal clock berada dalam logika 1.
4. Logika rendah : yaitu saat sinyal clock berada dalam logika 0.

Gambar 2.1. Kondisi Pemicuan Clock

Gambar 2.2. Simbol-simbol Pemicuan

Selanjutnya cara pengujian pemicuan suatu flip-flop akan dijelaskan dalam Tabel 2.1. Pada tabel tersebut, kita gunakan penerapan logika positif. Kondisi Clock High, yaitu saat clock ditekan sama artinya dengan logika 1, sedangkan saat clock dilepas sama artinya dengan logika 0. Jika pada langkah pengujian pertama keadaan sudah sesuai dengan tabel, pengujian dapat dihentikan, demikian seterusnya.

Tabel 2.1. Pengujian Pemicuan Clock

2.1.2 Flip-Flop R-S
Flip-flop R-S adalah rangkaian dasar dari semua jenis flip-flop yang ada. Terdapat berbagai macam rangkaian flip-flop R-S, pada percobaan ini flip-flop R-S disusun dari empat buah gerbang NAND 2 masukan. Dua masukan flip-flop ini adalah S (set) dan R (reset), serta dua keluarannya adalah Q dan Q’.
Kondisi keluaran akan tetap ketika kedua masukan R dan S berlogika 0.  Sedangkan pada kondisi masukan R dan S berlogika 1 maka kedua keluaran akan berlogika 1, hal ini sangat dihindari karena bila kondisi masukan diubah menjadi berlogika 0 kondisi kelurannya tidak dapat diprediksi (bisa 1 atau 0). Keadaan ini disebut kondisi terlarang. Selanjutnya kondisi terlarang, pacu, dan tak tentu akan dijelaskan melalui Tabel 2.2

Gambar 2.3. Rangkaian Percobaan Flip-Flop R-S

Tabel 2.2. a. Kondisi terlarang, pacu, dan tak tentu, karena perubahan clock

Tabel 2.2. b. Kondisi terlarang, pacu, dan tak tentu, karena perubahan clock dan masukan yang serempak
2.1.3 Flip-flop D
Flip-flop D dapat disusun dari flip-flop S-R atau flip-flop J-K yang masukannya saling berkebalikan. Hal ini dimungkinkan dengan menambahkan salah satu masukannya dengan inverter agar kedua masukan flip-flop selalu dalam kondisi berlawanan. Flip-flop ini dinamakan dengan flip-flop data karena keluarannya selalu sama dengan masukan yang diberikan. Saat flip-flop pada keadaan aktif, masukan akan diteruskan ke saluran keluaran.

Gambar 2.4. Contoh rangkaian Flip-flop D (Picu logika tinggi)

2.1.4 Flip-flop J-K
Flip-flop J-K merupakan penyempurnaan dari  flip-flop R-S terutama untuk mengatasi masalah osilasi, yaitu dengan adanya umpan balik, serta masalah kondisi terlarang seperti yang telah dijelaskan di atas, yaitu pada kondisi masukan J dan K berlogika 1 yang akan membuat kondisi keluaran menjadi berlawanan dengan kondisi keluaran sebelumnya atau dikenal dengan istilah toggle. Sementara untuk keluaran berdasarkan kondisi-kondisi masukan yang lain semua sama dengan flip-flop R-S.
Gambar 2.5. Flip-flop J-K
2.1.5 Register
 Register merupakan sekelompok flip-flop yang dapat menyimpan informasi biner yang terdiri dari bit majemuk. Register dengan n flip-flop mampu menyimpan sebesar n bit. Ada dua cara untuk menyimpan dan membaca  data ke dalam register, yaitu seri dan paralel. Dalam operasi paralel, penyimpanan atau pembacaan dilakukan secara serentak oleh semua tingkat reigster. Sedangkan untuk operasi seri, diterapkan secara sequential bit demi bit sampai semua tingkat register terpenuhi.
Ada empat tipe register :
1. Serial In – Serial Out
2. Paralel In – Paralel Out
3. Serial In – Paralel Out
4. Paralel In – Serial Out

2.1.5.1 Register Serial In – Serial Out
Pada Register Serial In – Serial Out, jalur masuk data berjumlah satu dan jalur keluarannya juga berjumlah satu. Pada jenis register ini data mengalami pergeseran, flip-flop pertama menerima masukan dari input, sedangkan flip-flop kedua menerima masukan dari flip-flop pertama, dan seterusnya.

Gambar 2.6. Rangkaian Register Serial In - Serial Out

2.1.5.2 Register Paralel In – Paralel Out
Register Paralel In - Paralel Out mempunyai jalur masukan dan keluaran sesuai dengan jumlah flip-flop yang menyusunnya. Pada register jenis ini, data masuk dan keluar secara serentak. Dan hanya membutuhkan satu kali picu.
Gambar 2.7. Rangkaian Register Paralel In – Paralel Out

2.1.5.3 Register Serial In – Paralel Out
Register serial In – Paralel Out mempunyai satu saluran masukan dan saluran keluaran sejumlah flip-flop yang menyusunnya. Data masuk satu-persatu (secara serial) dan dikeluarkan secara serentak. Pengeluaran data dikendalikan oleh sebuah sinyal kontrol. Selama sinyal kontrol tidak diberikan, data akan tetap tersimpan dalam register.

Gambar 2.8. Rangkaian Register serial In – Paralel Out

2.1.5.4 Register Paralel In – Serial Out
Register Paralel In - Serial Out mempunyai jalur masukan sesuai dengan jumlah flip-flop yang menyusunnya, dan hanya mempunyai satu jalur keluaran. Data masuk ke dalam register secara serentak dengan dikendalikan sinyal kontrol, sedangkan data keluar satu-persatu (secara serial).
Gambar 2.9. Rangkaian Register Paralel In – Serial Out






BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 ALAT DAN BAHAN

 1. PCB lubang                       1 buah
 2. Resistor 100 Ohm              2 buah
 3. Resistor 10K Ohm             2 buah
 4. Kapasitor 100uF                2 buah
 5. LED 5mm SB Yellow        2 buah
 6. Kabel Penghubung            1 buah
 7. Battery 9V                         1 buah
 8. Solder                                1 buah
 9. Tenol                                 30 cm

3.2 LANGKAH KERJA

1. Siapkan alat dan bahan.
2. Hubungkan kabel Power Solder pada kontak tegangan AC.
3. Bersihkan bagian tembaga PCB dan kaki komponen dengan cara diamplas.
4. Pasang komponen sesuai gambar rangkaian Lampu Flip Flop 2 Transistor pada PCB.
5. Solder kaki komponen rangkaian Lampu Flip Flop 2 Transistor pada PCB.
6. Lakukan pengecekan ulang, untuk memastikan rangkaian terpasang dengan benar.
7. Hubungkan rangkaian Lampu Flip Flop 2 Transistor dengan Battery 9V.
8. Lakukan analisa terhadap rangkaian Lampu Flip Flop 2 Transistor tersebut.

3.3 GAMBAR







BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 HASIL


Tampak Bawah

 Tampak Atas 

Video Hasil

4.2 ANALISA HASIL
Proses pengisian muatan kapasitor dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Pada saat saklar / switch ditekan maka kapasitor akan membentuk loop tertutup dengan battery 9 Volt, maka kapasitor akan melakukan pengisian sampai dengan tegangan pada kapasitor sama dengan tegangan pada baterry, dapat dilihat pada tampilan grafiknya.  
 Proses pengosongan muatan kapasitor dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Pada saat saklar / switch dilepas maka polaritas positf kapasitor akan terhubung singkat dengan polaritas negatif kapasitor, maka kapasitor akan melakukan pengosongan muatan sampai dengan tegangan pada kapasitor habis, dapat dilihat pada tampilan grafiknya. 

Diketahui:
R = 10K Kohm
C = 100uF
Konstanta Waktu:









BAB V
PENUTUP

5.1.   KESIMPULAN
         Flip-flop adalah rangkaian yang mempunyai fungsi pengingat (memory). Artinya rangkaian ini mampu melakukan proses penyimpanan data sesuai dengan kombinasi masukan yang diberikan kepadanya. Flip-flop adalah rangkaian utama dalam logika sekuensial. Nyala lampu pada Rangkaian Lampu Flip-Flop 2 Transistor ini akan bergantian antara LED 1 dan LED 2 dengan interval nyala dan padamnya lampu dikontrol oleh waktu pengisian dan pengosongan kapasitor pada rangkaian RC R 10 KOhm dan C 100 uF. Sedangkan transistor yang dipasang berfungsi sebagai saklar, agar nyala LED dapat bergantian sesuai dengan kondisi pengisian dan pengosongan kapasitor.